Hampir hujan, Aku harus bergegas menuju gedung pertunjukkan sebelum hujan sialan membasahi pakaian yang Ku kenakan. Yah, ini karena permintaan sahabat Aku yang slalu merepotkan itu, tak habis pikir, kenapa juga memiiki sahabat yang mempunyai sifat yang banyak berbeda denganku. Tapi bisa dipastikan Kami adalah dua orang konyol yang bahagia. Hahahaha!
    Oh iya,, kenalkan dulu, Aku Ryan! Penganggurann yang mempunyai hobi jalan-jalan dan makan-makan. Dan sahabat Aku itu, Indy! Wanita sukses dengan karir yang gemilang, ketrampilan yang bejibun, plus kecerdasaan otak yang luar biasa. Hari ini adalah pertunjukkan perdana dari Sanggar tari yang dia ikuti, Tradisional!
    Berlari Aku tinggalkan parkir-an menuju pintu gedung pertunjukkan. Di dalam ternyata sudah banyak orang-orang yang ingin menyaksikan        dan menikmati pertunjukkan, atau sekedar menonton untuk mengisi waktu luang. Aku tak tahu! Ku sapu sekeliling ruangan, ku putar arah pandangan mataku kesana-kemari. Ahhh itu dia, sedang duduk bercanda bersama teman-temannya. !!

    Dan kebetulan Dia menoleh ke arahku, Ku lambaikan tangan, dan Bergegas saja dia datang menghampiriku. “Sudah lama yan?” ucap indy “maaf ya, Aku terus-terusan ngrepotin Elu!”
    “Hasyahh, biasanya emang gimana ndy? Minta maaf segala,” sahutku dengan memasang mimik muka sedih, lalu kupegang tubuhku di bagian dada “Apa sih yang nggak buat kamu indy ku sayang? Waktuku, hartaku, bahkan jiwa dan ragaku semuanya Aku curahkan untukmu?  hhahhahhahaha” tawaku tak henti-henti!
    “Mulai deh lebainya, ndak malu tuh didenger orang-orang? Buruan yuk, gabung sama teman-teman ku yang di sanggar, ntar Gue kenalin!” timpal indy, sambil menarik tanganku dan menggeretku menuju ke tempat dimana teman-temannya berada.
    “Gaes kenalain nih sopir Aku, dia udah lama lho kerja ditempatku, emang sih ndak cakep-cakep amat. Tapi orangnya rajin kok, nurut ndak suka protes, tau jalan, makannya dikit, ndak nakal juga lho, udah jinak deh pokoknya” cerocos indy disambut gelak tawa teman-temannya sanggarnya!
    “wah, Aku mau dong ndy, yang kayak gitu satu! Kamu belinya dimana?” celetuk salah satu temannya, gayung bersambut tambah riuh tawa dari teman-teman indy.
    ‘’sialan lu ndy, mau nurunin pasaran gua? Hah?” timpal ku sambil mata melotot pura-pura marah !
    “Duh, Ryan sayang gitu aja marah, becanda tau, temenku dah tau juga kali siapa eluuu! ” Jawab Indy sambil muka pasang innocent.
     “Tau gua, udah ah Gue mau duduk!” Ucap ku sambil ku taruh pantatku ke kursi yang kosong, “eh ndy, elu tampil urutan yang ke-berapa he? ” Tanyaku pada indy.
     “Tadi dapet urutan kelima, pokoknya ntar kalo gua tampil, elu dilarang senyum, tawa, apalagi ngakak! Sampai ketahuan, abis turun dari panggung, gua jitak kepala lu!” seru indy, dengan nada dibuat-buat marah dan sedikit memohon.
    “emmm, liat ntar aja ya ndi! Moga aja lu bisa buat muka gue yang kece badai ini melongo, kagum sama penampilan elu yang wow, atau ntar gue pasang muka mupeng aja? Pas elu tampil? ” sahutku sambil memandang indy lekat-lekat,  
    “Maksud lo yan? Mupeng gimana sih? Jangan bikin gue salting deh! ” seru indy rada bego,
    “Kok mupeng gimana? Ya mupeng! Mupeng pengen nimpuk pake kursi waktu lu di atas panggung! ahhhahahhahahhah” kelakar ku sambil tek henti-hentinya ngakak.
    “ahhhhhhh elu nyebelin yan, udah ah, gue mau ke belakang panggung dulu ya, mau siap-siap buat tampil sambil nunggu giliran! Kamu baik-baik disini ya, jangan nakal, mata harus focus! Jangan godaiin bini orang! Inget? hhahhhahaha” tukas Indy sambil ngakak , dan berlari menuju bilik di balik panggung.
    Sialan si Indy, bini orang dibawa-bawa, umpat gue dalam hati. Yahh, nunggu sendiri, duduk seorang diri, bersabar menanti sahabat hati kembali hehhhehhe. Arghhhh, kelanjutannya gimana ya? Belom tau, tunggu entar! Hhehhe.
   


UNTUKMU

Kata mereka diriku slalu dimanja,
Kata mereka diriku slalu ditimang,..
Ohh Bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada didalam hidupku,.!

Aku menyayangimu Ibu,
Memang Aku tak pernah bisa dan mampu mengungkapkan apa yang Aku rasakan padamu, Aku memang tak tahu bagaimana cara memperlakukanmu dengan kelembutan dan kasih sayang. Tapi semoga dengan kekuatan nurani yang setiap Ibu miliki, dan dengan batin yang mengikat Kita, Kau akan mengerti dan memahami betapa besar cintaku padamu Ibu.

Aku meminta maafmu Ibu,
Ibu banyak sekali gambaran tentang dirimu, dan tak terhitung lukisan kata-kata  menjadi Buku yang mewujudkan Kamu. Sempat Aku membaca salah satu lukisan kata-kata itu, tentang kebesaran hatimu kepada Anak-anakmu, terlebih lagi tentang caramu memaafkan semua kesalahan yang diperbuat buah hatimu. Membuatku tersadar berapa banyak Aku melukai hatimu, membuatmu menangis tak terperi. Hatiku sakit Ibu, mengingat apa yang sudah Aku lakukan padamu, yang sudah Aku berikan padamu. Maafmu sebesar jagat raya, maafmu seluas samudra, dan maafmu membumbung tinggi jauh menembus Angkasa hingga terdengar oleh Telinga Sang pencipta. Bukan karena buku yang ku baca Aku meminta maafmu, tapi karena Kewajibanku untuk selalu meminta ampunanmu Ibu, memohon maafmu untuk semua yang telah terjadi selama ini. Selalu Aku menyayangimu.

Apakah Kau bangga denganku? Ibu?
Tak pernah ku tahu, dan tak Aku mengerti tapi selalu Aku pahami. Aku tak tahu apakah Ibu merasa? Apakah Ibu merasa Aku adalah hasil yang sudah membanggakanmu? dengan karya-karyaku? dengan Prestasi ku? dengan kemampuan, dengan kelebihan dan melimpahnya keterampilan? Tidak! Ibu tahu Aku tidak memiliki itu semua! Karena itu Aku menjadi tidak mengerti, dengan apa? Bagaimana? Anakmu ini bisa membuatmu bangga! Hingga kini, hingga jari-jariku melukiskan kata-kata ini, Aku masih tidak mengerti apakah aku sudah membuatmu bangga? Sempat menjadi kebanggaanmu? Ataukah Aku harus mengerti, semua itu belum terjadi. Seperti Kau memahamiku, Aku juga memahami, terkadang kebanggaan itu tidak terlihat nyata, kebanggaan itu tidak bisa diraba. Hanya saja kita pasti pernah merasakannya bersama, Ibuku sayang.

Layaknya Sungai,
Cintamu padaku, kasih sayangmu Untukku selalu mengalir tak berhenti seperti sungai yang Aku tahu tak memiliki ujung. Terkadang kasih sayangmu begitu tenang menghanyutkan, dan kadang rasa cintamu padaku begitu berisik seperti riak air yang sedang bermain. Tatkala Kau merasa, Kau tahu, Aku sedang terluka, Hatiku menjadi gulana karena beban kehidupan dan masalah batin yang ada. cintamu dan kasih sayangmu akan mengalir begitu deras membasahi tubuhku begitu keras, seperti air terjun yang melunakkan bebatuan dibawahnya, sama halnya dengan diriku, akan ada jalan keluar untuk setiap masalah, akan ada penyembuh untuk setiap luka. Terima Kasih Ibu karena cintamu Aku selalu merasa bahagia, dan kasih sayangmu membuatku selalu ceria.

Terima kasihku padamu,
Tak bisa kurangkai dengan kata-kata, tak bisa ku ganti dengan harta berbagai rupa. Segala yang telah kau lakukan untukku, dan semua yang telah Kau berikan padaku. Terima kasih Ibuku, Kau selalu ada disetiap langkahku, kau selalu menemani dalam manis dan getirnya perjalananku. Kau adalah Hadiah, Kau adalah anugerah yang Tuhan sematkan saat menciptakanku. Segalanya untukmu, Ibuku!

Ku ingin Kau tahu Bunda,
Betapa Ku mencintaimu,
Lebih dari segalanya...

Kamu sangat berarti, Istimewa dihati selamanya rasa ini..
Jika Tua nanti kita tlah hidup masing-masing.
Ingatlah hari ini..

Kawan? Pernahkah terlintas di pikiranmu, apa yang dulu kita lakukan? Apa yang dulu kita rasakan? Selalu bersama, bersama dalam suka dan duka?
Kawan? Pernahkan Kau bayangkan? Kehadiranku dulu di dalam hidupmu? Keberadaan ku dulu yang sempat mengisi hari-hari mu?
Kawan? Pernahkan kau coba? Menghapus apa yang telah Kita ukir? Mengabaikan apa yang dulu ada diantara kita?
Dan kawan? Pernahkan Kau angankan? Semua itu akan kembali lagi?

Ternyata takdir mempertemukan kita, ini, hari ini Aku melihatmu lagi, melihat senyummu yang menyejukkan hati, mendengar suaramu yang menenangkan kalbu, merasakan halus dari kulitmu yang sungguh begitu. Takdir ini menghantarkanku untuk mengurai kembali kenangan-kenangan itu,..

Kawan, Aku menyadari, hal-hal yang dulu indah, jika ada lagi takkan mungkin menghasilkan rasa yang sama. Tapi kenapa tidak kita coba? Menemukan hal-hal yang lebih indah, yang lebih baru, yang akan menciptakan banyak sekali keceriaan dan kebahagiaan dalam hidup kita?

Kawan, selalu Aku tawarkan permulaan untukmu, karena jika kita harus melanjutkan apa yang sudah kita jalani, apa yang takdir sudah gariskan, itu pasti akan terasa pilu. Itu pasti akan terasa ngilu. Melanjutkan apa yang telah melukai hati dan pikiran kita, meneruskan apa yang telah kau alamj dan telah aku turuti.

Kawan, kata maaf tak henti-hentinya Aku ucapkan, dan tak henti-hentinya Aku berikan. Agar kau mau menerima apa yang Aku tawarkan. Agar kau mau mengerti apa yang Aku rasakan hingga saat ini.

Ini, disini aku bisa, disini aku mampu menorehkan, melukiskan kata-kata yang tidak sempat dan tidak mungkin akan kuungkap dari kelunya bibirku yang selalu menyakitimu. Dari kelunya hatiku yang terluka karena melukai hatimu.

Ini, kau harus tau, .. Takkan terhenti dan takkan berhenti rasa ini. Selagi masih ada garis Tuhan yang mengingatkanku tentang dirimu dan tentang kita.

#Senandung rindu yang menggebu, terkadang terurai dalam sebuah lagu, bahkan terkadang terlukis dalam bentuk puisi yang sedikit puitis.

Aku, ilalang yang masih memberikan kesejukan!

                                                        SENJA
Di penghujung hari
saat Matahari kembali pergi
dan Rembulan berani menampakkan diri.
       Kau hadir,
       gelap dan terang, kau menantang
       Kau menari dengan keindahan
       menciptakan Siluet temaram
       menyiratkan Warna yang terkadang tak wajar.
Kau hanya penantang
terkadang enggan, terkadang sungkan
Kau bagian keindahan
tetapi hanya terkadang
         karena Kau senja
         Kau berharga......
Menuju Kota Itu

Kembali,
Aku teringat masa itu, dimana sebagian banyak waktu yang Aku miliki, sebagian banyak kenangan yang Aku ukir, dan beberapa kesakitan yang Aku rasa, ada disana.
Kembali Aku terbayang, dengan enggan tapi tetap terngiang, ingatan yang akan selalu terbayang dan tak mungkin terlupakan.
Senyuman,
Disana selalu Kutatap bibir yang indah, yang menyunggingkan kesenangan, banyak dan terlalu sering, hingga Aku tak mampu berpaling. Dulu menjadi Pengharapanku setiap waktu, melihat senyuman yang terukir dibibirmu. Menjadi salah satu kebahagian dan Anugerah yang ditawarkan padaku. Pernah juga Aku janjikan senyuman yang sama untuknya, senyuman yang mampu meluluhkan hati nuraninya, senyuman yang akan membuat dia menggantungkan kesenangan Hidupnya pada diriku. Aku ingat, Senyuman yang Aku berikan tak mampu melakukan itu semua.
   Lepas dari senyuman, disana juga selalu tersedia genggaman tangan yang menenteramkan, genggaman ketulusan dan genggaman kepedulian.
Kala Aku tak mampu menanggung beban yang terkadang hadir, genggaman yang menguatkan. Disaat Aku tak bisa tertawa karena masalah yang ada, genggaman itu hadir dan menunjukkan kepedulian. Sekedar itu sudah membuatku bahagia.
  Kota itu bukan terkadang, tapi setiap saat selalu menghadirkan sambutan dingin untuk semua penghuni dan pengunjungnya, jauh dari jangkauan, dan Matahari enggan berbagi terang.DiKota itu juga Aku memiliki Kehangatan yang aku kira Abadi, kehangatan dari senyuman dan genggaman yang menghadirkan dekapan kenyamanan, Aku menyukai hal itu, suka memiliki senyuman, kehangatan dan dekapan.
  Tapi kini semua sudah jauh berlalu, kini aku berada disini, dikota yang menghadirkan keramahan, kesejukkan, dan banyak sekali senyuman.
Banyak sekali tangan yang ingin berbagi genggaman, dan tak lebih banyak dari dekapan persahabatan yang Kota ini tawarkan.
  Tapi Aku ingin itu,
Ingin kembali dan menuju Kota itu, karena disana ada Kamu, segelincir sesuatu yang mampu melengkapi hidupku, membahagiakan Hari-Hari ku, bahkan jika Kamu masih Aku miliki, sempurna sudah jalan hidup yang Aku lalui.
   Aku tidak akan mencari
   Aku tidak akan menemui
   Dan Aku tidak mau mendahului                                                                                  Aku biarkan waktu yang berbicara
   Aku pasrahkan Takdir yang akan menentukan
   Jika garis Tuhan masih menginginkan Kamu untuk Aku miliki
   Hanya keyakinan yang akan Aku bawa
   Dan pengharapan yang tidak putus-putusnya.
Untukmu Aku kenangkan, Untukmu Aku senandungkan
Seindah-indahnya ingatan, Semerdu-merdunya suara nyanyian.

Diberdayakan oleh Blogger.