Ingatan
/
0 Comments
Menuju Kota
Itu
Kembali,
Aku
teringat masa itu, dimana sebagian banyak waktu yang Aku miliki, sebagian
banyak kenangan yang Aku ukir, dan beberapa kesakitan yang Aku rasa, ada
disana.
Kembali
Aku terbayang, dengan enggan tapi tetap terngiang, ingatan yang akan selalu
terbayang dan tak mungkin terlupakan.
Senyuman,
Disana
selalu Kutatap bibir yang indah, yang menyunggingkan kesenangan, banyak dan
terlalu sering, hingga Aku tak mampu berpaling. Dulu menjadi Pengharapanku
setiap waktu, melihat senyuman yang terukir dibibirmu. Menjadi salah satu
kebahagian dan Anugerah yang ditawarkan padaku. Pernah juga Aku janjikan
senyuman yang sama untuknya, senyuman yang mampu meluluhkan hati nuraninya,
senyuman yang akan membuat dia menggantungkan kesenangan Hidupnya pada diriku.
Aku ingat, Senyuman yang Aku berikan tak mampu melakukan itu semua.
Lepas
dari senyuman, disana juga selalu tersedia genggaman tangan yang menenteramkan,
genggaman ketulusan dan genggaman kepedulian.
Kala
Aku tak mampu menanggung beban yang terkadang hadir, genggaman yang menguatkan.
Disaat Aku tak bisa tertawa karena masalah yang ada, genggaman itu hadir dan menunjukkan
kepedulian. Sekedar itu sudah membuatku bahagia.
Kota itu bukan terkadang, tapi setiap saat
selalu menghadirkan sambutan dingin untuk semua penghuni dan pengunjungnya,
jauh dari jangkauan, dan Matahari enggan berbagi terang.DiKota itu juga Aku
memiliki Kehangatan yang aku kira Abadi, kehangatan dari senyuman dan genggaman
yang menghadirkan dekapan kenyamanan, Aku menyukai hal itu, suka memiliki
senyuman, kehangatan dan dekapan.
Tapi kini semua sudah jauh berlalu, kini aku
berada disini, dikota yang menghadirkan keramahan, kesejukkan, dan banyak
sekali senyuman.
Banyak
sekali tangan yang ingin berbagi genggaman, dan tak lebih banyak dari dekapan
persahabatan yang Kota ini tawarkan.
Tapi Aku ingin itu,
Ingin
kembali dan menuju Kota itu, karena disana ada Kamu, segelincir sesuatu yang
mampu melengkapi hidupku, membahagiakan Hari-Hari ku, bahkan jika Kamu masih
Aku miliki, sempurna sudah jalan hidup yang Aku lalui.
Aku tidak akan mencari
Aku tidak akan menemui
Dan Aku tidak mau mendahului
Aku biarkan waktu yang berbicara
Aku
pasrahkan Takdir yang akan menentukan
Jika
garis Tuhan masih menginginkan Kamu untuk Aku miliki
Hanya keyakinan yang akan Aku bawa
Dan pengharapan yang tidak putus-putusnya.
Untukmu
Aku kenangkan, Untukmu Aku senandungkan
Seindah-indahnya
ingatan, Semerdu-merdunya suara nyanyian.